Berlatih atau bertanding di lingkungan tropis, khususnya di daerah pantai, memberikan tantangan fisiologis yang unik bagi para olahragawan. Fenomena Termoregulasi Tubuh menjadi faktor penentu apakah seorang atlet mampu mempertahankan performanya atau justru mengalami penurunan drastis akibat panas berlebih. Termoregulasi adalah proses internal di mana tubuh berusaha menjaga suhu inti tetap stabil di kisaran 37 derajat Celsius. Saat suhu lingkungan meningkat, tubuh harus bekerja ekstra keras untuk membuang panas metabolik yang dihasilkan oleh aktivitas fisik agar tidak terjadi heatstroke atau kelelahan panas.
Tantangan ini menjadi jauh lebih berat ketika kita memperhitungkan Dampak Kelembapan Pesisir yang tinggi. Di daerah pesisir, udara sudah sangat jenuh dengan uap air. Hal ini menghambat proses evaporasi atau penguapan keringat dari permukaan kulit. Padahal, evaporasi adalah mekanisme utama manusia untuk mendinginkan tubuh. Ketika keringat tidak bisa menguap dan justru hanya menetes, tubuh kehilangan cairan tanpa mendapatkan efek pendinginan yang memadai. Akibatnya, suhu inti tubuh akan terus merangkak naik, yang memaksa jantung berdetak lebih cepat untuk mengalirkan darah ke kulit demi mendinginkan tubuh, sehingga mengurangi suplai darah ke otot yang sedang bekerja.
Kondisi lingkungan seperti ini secara langsung akan menggerus Daya Tahan seorang atlet. Penurunan daya tahan terjadi karena sistem saraf pusat akan memberikan sinyal “perlambatan” sebagai bentuk perlindungan diri agar suhu tubuh tidak mencapai level yang membahayakan. Atlet akan merasakan beban kerja yang jauh lebih berat meskipun intensitas lari atau latihannya sama dengan saat berada di lingkungan yang kering atau sejuk. Kelelahan dini, kram otot, dan hilangnya konsentrasi adalah tanda-tanda awal bahwa mekanisme pertahanan tubuh mulai kewalahan menghadapi kombinasi panas dan kelembapan yang ekstrem.
Memahami cara kerja sistem Tubuh dalam merespons stres termal ini sangat penting bagi penyusunan strategi pertandingan. Aklimatisasi atau proses pembiasaan diri terhadap suhu panas harus dilakukan minimal dua minggu sebelum kompetisi di daerah pesisir dimulai. Selama masa aklimatisasi, tubuh akan beradaptasi dengan cara mulai berkeringat lebih awal, meningkatkan volume plasma darah, dan mengeluarkan keringat yang lebih encer (kadar elektrolit yang terbuang lebih sedikit). Adaptasi fisiologis ini sangat membantu atlet untuk tetap kompetitif meskipun berada di bawah terik matahari pantai yang menyengat.
