Bagi mahasiswa asal Nias, kepercayaan diri sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan di tanah rantau maupun di daerah asal. Dalam perjalanannya, kepercayaan diri bukan sekadar perasaan nyaman, melainkan sebuah bentuk “kedaulatan mental“—kondisi di mana seseorang memiliki kendali penuh atas harga diri dan keyakinan akan kemampuannya sendiri. Lapangan olahraga, mulai dari permainan tradisional “Fahombo” (lompat batu) hingga olahraga modern seperti futsal dan badminton, menjadi kawah candradimuka yang paling efektif untuk membangun kedaulatan mental tersebut.
Kedaulatan mental berakar pada konsep self-efficacy, yaitu keyakinan individu pada kemampuannya untuk menyelesaikan tugas tertentu. Di lapangan olahraga, mahasiswa Nias diuji secara langsung. Saat mereka berhasil melakukan servis yang mematikan atau mencetak gol kemenangan, otak melepaskan dopamin yang memperkuat rasa percaya diri. Keberhasilan fisik ini memberikan bukti nyata kepada diri sendiri bahwa “saya mampu”. Bagi mahasiswa yang mungkin merasa terintimidasi oleh lingkungan akademik yang baru atau kompleks, pengalaman sukses di lapangan ini bertindak sebagai jangkar mental yang mencegah mereka merasa rendah diri.
Salah satu tantangan besar mahasiswa adalah imposter syndrome atau perasaan bahwa dirinya adalah penipu yang tidak layak atas kesuksesannya. Olahraga menghancurkan sindrom ini melalui transparansi performa. Di lapangan, hasil tidak bisa dimanipulasi; kerja keras membuahkan hasil, dan kemasalahan membuahkan kegagalan. Ketika mahasiswa Nias melihat kemajuan fisiknya melalui latihan yang konsisten, mereka mulai memahami hukum sebab-akibat dari usaha. Kedaulatan mental ini kemudian terbawa ke ruang kuliah. Jika mereka bisa menguasai teknik olahraga yang sulit melalui latihan, maka mereka juga yakin bisa menguasai mata kuliah yang berat melalui belajar.
Selain itu, olahraga memberikan ruang bagi mahasiswa Nias untuk mengekspresikan identitas dan kekuatan mereka. Budaya Nias yang kental dengan keberanian dan ketangkasan fisik menemukan salurannya dalam olahraga kompetitif. Di lapangan, status sosial atau latar belakang ekonomi menjadi tidak relevan; yang ada hanyalah kemampuan dan karakter. Hal ini membangun kepercayaan diri yang autentik, bukan yang didasarkan pada atribut luar. Kedaulatan mental semacam ini membuat mahasiswa lebih berani berargumen di kelas, lebih vokal dalam organisasi, dan lebih tangguh saat menghadapi kritik.
