Pulau Nias sering kali dikenal dengan keindahan pantainya dan tradisi lompat batunya yang mendunia. Namun, di balik eksotisme tersebut, terdapat tantangan besar dalam hal akses pendidikan agama di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau. Ramadan kali ini, sekelompok mahasiswa memutuskan untuk melakukan pengabdian masyarakat dengan program ngajar ngaji di pelosok. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam melewati medan berbukit dan jalanan setapak yang licin menjadi awal dari sebuah perjalanan spiritual dan sosial yang mengubah cara pandang para pemuda ini terhadap makna pengabdian.
Tiba di lokasi, mereka disambut oleh antusiasme masyarakat muslim minoritas yang sangat mendambakan kehadiran guru agama. Di wilayah pelosok Nias, fasilitas ibadah dan belajar mengaji sering kali sangat terbatas, baik dari segi infrastruktur maupun ketersediaan pengajar yang mumpuni. Mahasiswa mulai mengatur jadwal belajar yang fleksibel, menyesuaikan dengan waktu anak-anak membantu orang tua mereka di ladang atau melaut. Inilah yang mereka sebut sebagai pengalaman tak terlupakan, di mana mengajar bukan lagi soal duduk di depan kelas, melainkan tentang bagaimana beradaptasi dengan denyut nadi kehidupan masyarakat lokal.
Metode pengajaran yang dibawa sangat kreatif agar anak-anak tidak merasa terbebani. Mereka menggunakan teknik lagu (nasyid) untuk membantu menghafal huruf hijaiyah dan tajwid dasar. Kedekatan emosional yang terjalin antara mahasiswa dan anak-anak di Nias membuat proses transfer ilmu berjalan sangat cepat. Kesabaran para mahasiswa diuji saat menghadapi keterbatasan bahasa dan sarana, namun senyum tulus dari anak-anak setiap kali berhasil melafalkan satu ayat Al-Qur’an menjadi obat penawar lelah yang sangat mujarab. Aktivitas ngajar ngaji ini pun akhirnya menjadi magnet bagi warga desa untuk berkumpul setiap sore.
Selain urusan mengaji, para mahasiswa juga turut serta dalam aktivitas harian warga, seperti memasak bersama untuk menu berbuka dan membersihkan masjid desa. Interaksi yang mendalam ini memberikan pemahaman tentang toleransi dan ketangguhan hidup yang luar biasa. Di Nias, mereka belajar bahwa keterbatasan fasilitas bukan berarti keterbatasan semangat. Justru di tempat-tempat yang paling jauh dari hiruk-pikuk kota, nilai-nilai kemanusiaan terasa jauh lebih murni dan kuat. Pengabdian ini menjadi cermin bagi mahasiswa untuk lebih mensyukuri kemudahan yang mereka miliki di bangku kuliah.
